Jumat, 03 Januari 2014

Kota Donggala Abad ke 18 PENYANDRAAN KAPTEN DAVID WOODARD DAN PERKAWINAN PUTRA BAJAK LAUT MINDANAO

Oleh: Jamrin Abubakar

DONGGALA, kota tua di ujung barat Teluk Palu, Sulawesi Tengah banyak menyisahkan kisah masa silam dalam lintas sejarah international. Nama dan cerita sosial politik pada zamannya pun tercatat dalam sejumlah buku klasik yang ditulis para petualang dari Barat. 

Kota Donggala sudah dikenal sejak abad  XIII, salah satu bandar niaga yang ramai dikunjungi bangsa-bangsa asing seperti Tiongkok (Cina), Gudjarat (India), Spanyol, Portugis, Arab, Belanda dan kerajaan-kerajaan Nusantara. Kota ini pernah menjadi  salah satu gerbang perekonomian di Sulawei, karena barang-barang yang masuk maupun yang keluar  umumnya melewati Donggala, tempat berlabuhnya beragam kapal niaga.

Selain Josep Condrad, pengarang berkebangsaan Inggris kelahiran Polandia yang berkesan terhadap Donggala, ada nama David Woodard seorang kapten kapal yang paling berkesan dan lebih awal mengenal kota Donggala. Bisa jadi Josep Condrad datang ke Donggala setelah membaca kisah perjalanan sang kapten David. Sedangkan Josep sendiri menjadikan Donggala sebagai salah satu tempat penjelajahan Nusantara (1858-1924) dan sempat menjalin persahabatan dengan La Sabanawa I Sangalea Dg Paloera, raja Banawa palingke-7 (1845-1888). 

Mengenai kehadiran David Woodard seorang kapten kapal dagang Amerika Enterprise bersama 4 orang anak buahnya di Donggala 1793-1795 disebabkan karena penyandraan. Kisah kapten  itu dapat dibaca dalam bagian buku Indonesia Timur Tempo Doeloe 1544-1992 dengan judul asli To the Spice Islands and Beyond Travels in Eastrn Indonesia, disusun George Miller sejarawan Australia dan diterjemahkan oleh Maria Agustina dan disunting Devy Lubis. Kisah tersebut sebetulnya lebih lengkap dalam buku The Narrative of Captain David Woodard yang pernah diterbitkan di London.

Namun di sini saya hanya membicarakan info dari buku Indonesia Timur Tempo Doeloe yang diterbitkan Komunitas Bambu, Januari 2012. Salah satu bagian memuat tulisan David Woodard; Uniknya Kehidupan di Pantai Barat Sulawesi, bersumber dari sebuah jurnal yang diterbitkan David  tahun 1804. Buku ini merupakan bunga rampai tulisan sejumlah petualang/penulis asing  tentang wilayh-wilayah Timur Indonesia. Selain memuat  tentang Donggala (Sulawesi Tengah), ada pula tulisan tentang Makassar, Toraja, Ternate, Papua,  Lombok, Pulau Komodo, Timor-Timur dan lainnya total ada 28 kisah masing-masing seorang penulis tentang wilayah Indonesia Timur.

Di antara tulisan tersebut, sebagai pembaca saya apresiasi khusus adalah kisah yang ditulis langsung David Woodard dimana lokasi ceritanya telah menjadi bagian dari wilayah dimana saya dapat merasakan tempat tersebut, DONGGALA. Meskipun dalam buku karya Miller ini hanya bagian kecil kisah sang pelaut  Woodard, tapi setidaknya pembaca dapat memperoleh gambaran tentang kehidupan sosial politik, ekonomi dan budaya masyarakat Kota Donggala abad ke 18 atau 219 tahun silam. Dari catatannya itu pula dapat diketahui tentang tokoh agama Islam (bergelar Tuan haji) sudah  sangat kuat dalam kehidupan politik yang sangat  “berpengaruh”  pada pemimpin adat (raja) yang berkuasa. 

Woodard bukanlah etnolog, maka dalam mengidentifikasi orang yang tinggal di Donggala dan sekitarnya ketika itu tidak berdasarkan sebutan etnis lokal. Melainkan dengan sebutan orang Melayu sebagaimana lazimnya berbahasa Melayu di wilayah Nusantara, maka orang Donggala diklasifikasikan sebagai Melayu. 

Di antara kisah David Woodard, yaitu sewaktu berada di Donggala tahun 1793 yang kehadirannya ketika itu dianggap unik dan aneh oleh warga setempat. Bersama rekannya dikerumuni warga, bahkan badannya diperiksa hingga didudukkan di kursi persidangan oleh kepala suku atau sebagai raja. Saking ketakutan ia sempat berlutut di kaki kepala suku untuk minta pengampunan agar tidak dibunuh. Hari pertama ia hanya disuguhkan kelapa muda sebagai makanan, padahal mereka sangat lapar. Makanan selanjutnya yang sering dinikmatinya yaitu  jagung dan makanan (roti) terbuat dari sagu, bahkan di antara rekan David ikut membuat sagu di tengah hutan bersama warga. Apalagi mereka pun akhirnya menyatu dengan masyarakat dan ditempatkan dalam sebuah rumah, sehingga dapat mencari sendiri makanan.

Diceritakan suatu hari, ia berhasil menangkap seekor babi hutan dengan cara menombak. Namun warga sempat keberatan karena bagi warga muslim merupakan binatang haram dikonsumsi, namun David kemudian setelah mengasapi daging itu ia sembunyikan dengan bukukusan daun di tengah hutan. Setiap hendak makan barulah ia mengambilnya lagi, hal ini dilakukan hingga 10 hari.

Perkawinan Putra Raja Mindanao dengan Putri Raja Donggala
Pokoknya kisah pelaut itu bukan saja menyedihkan dan tragis, tapi sekaligus diwarnai pergulatan yang lucu di tengah masyarakat yang masih sangat polos ketika itu. Dari kisah itu pula diceritakan ada seorang  tokoh berpengaruh dan sangat dihormati, akrab disapa Tuan Haji, namanya Haji Omar. Ketika seorang raja yang juga bajak laut dari Mindanau, Filipina dengan nama Raja Tomba datang ke Donggala dengan maksud melamar putri dari Tooa, Raja Donggala, maka Tuan Haji itulah yang menjadi salah satu mengrus perkawinan. Ternyata antara Raja dari Mindanao dan Tuan Haji itu sudah saling kenal sewaktu ia pergi ke Mindanao.



Sebutan raja Tooa (berarti raja yang tua, David tidak menyebut nama sebenarnya raja itu). Kecuali putra raja tooa disebutnya Arvo pada saat  itu kekuasaan telah dilimpahkan padanya sebagai raja muda Donggala).

Kesaksian Woodard dalam prosesi pelamaran hingga perkawinan antara putra raja dari Mindanao dengan putri Raja Donggala itu sangat menarik disimak, di situ digambarkan suasana yang sangat dramatis sekaligus syarat dengan nilai-nilai kultur orang Donggala ketika itu sangat kental. Imajinasi pembaca dapat merasakan betapa mewahnya pesta anak raja  ketika itu. Dalam prosesi kedatangan putra Mindanao itu saja dilakukan secara teatrikal dengan pertempuran palsu dikawal 20 awak kapal bersenjata lengkap yang kemudian disambut pula 30 orang bersenjata dengan perisai lengkap hingga rombongan menuju gerbang kota.


Tradisi yang tersisa
Dalam kesaksian tentang jejak-jejak kisah David Woodard tentang kota Donggala 200 tahun lebih di masa silam itu, sudah banyak yang berubah dan tak terlacak. Di antaranya nama Travalla yang disebutnya sebuah kota yang letaknya agak ke selatan dari Donggala. Di kota Travalla itulah pertama kali David dibawa untuk diadili dalam pertemuan pertemuan.

Sebagai orang Donggala, pada saat saya membaca tulisan tersebut, langsung bertanya-tanya yang manakah Travalla sekarang ini? Wah ini menarik kalau tak jauh dari arah selatan Donggala dulu ada nama Travalla. Tapi tak ada lagi yang mengetahui saat ini. Mungkinkan ini sebuah kota yang hilang? Atau telah ganti nama? “Ini menarik dilacak kembali.” Begitu saya bertanya. Sebab saat ini ada banyak nama permukiman di sana. 

Terakhir setelah sempat melakukan posting di facebook tentang TRAVALLA itu, akhirnya saya mendapat informasi dari kawan Sairin kalau Travalla menurut James T Collins (ahli sejarah bahasa) Travalla yang dimaksud oleh Woodard adalah Towale. Nama Towale merupakan salah satu desa di Kecamatan Banawa Tengah, sekitar 15 km dari Kota Donggala. Towale (Tovale) memang merupakan kampung tua di Banawa yang kaya dengan cerita rakyat atau legenda sejak zaman dahulu yang nyaris dipercaya sebagian warga setempat.

Sedangkan jejak masa silam yang masih tersisa saat ini yaitu tradisi menenun kain (disebut sarung Donggala) paling banyak terdapat di Towale. Pada saat Woodard datang ke Donggala tahun 1793 ia masih menyaksikan orang membuat kain. Menariknya saat itu bahan tenun semuanya terbuat dari kapas yang ditanam penduduk setempat dan dipintal sendiri hingga menjadi kain sutra dengan pewarna celupan. Bedanya dengan sekarang, tidak lagi dengan kapas buatan, melainkan dengan benang-benang hasil pabrika modern.

Jejak pembuatan makanan dari sagu hingga kini bisa pula disaksikan di Donggala, terutama di Kecamatan Banawa Tengah dan Banawa Selatan tak jauh dari kota Donggala. Tradisi ini belum berubah sejak kehadiran para bajak laut ke Donggala, ketika zaman hukum internasional belum berlaku seperti saat ini.

Dalam sejarah bahari Indonesia, David Woodard hanyalah salah satu dari sekian orang asing pernah datang ke Donggala dalam petualangan. Woodard berada dalam penyndaraan di Donggala antara tahun 1793-1795. Selanjutnya setelah ia kembali ke Amerika melalui Makassar  dan Batavia tahun 1795*
(Jamrin Abubakar, peminat sejarah dan budaya tinggal di Donggala)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar